Posted by Administrator | Kategori: Psikoterapi

Mencoba menerangkan “yang nirsadar” dengan sederhana

“Yang nirsadar” adalah kebiasaan-kebiasaan. Lebih lugas, ia adalah keterbiasaan-keterbiasaan. Bukan operasi memori deklaratif, yang sengaja (secara sadar) diupayakan, melainkan kerja ingatan prosedural, yang begitu saja terejawantah. Performa seseorang mengendarai kereta angin adalah sebuah contoh nyata dari operasi yang nirsadar. Dengan menyaksikan penampilan itu, dapat diraih pengetahuan tentang keterbiasaan-keterbiasaannya. Begitu pun dengan mengendarai mobil. Seorang pasien mengatakan bahwa tatkala mengendarai mobil di jalan-jalan umum, hatinya sering jengkel, marah, kepada para pengendara kendaraan lain. Tidak jarang ia mengumpat, walaupun hal itu ia lakukan seorang diri di dalam mobilnya. Mungkin performa nirsadar ini bercerita tentang bagaimana ia menjalani relasi dengan liyan. Ia cenderung menghayati liyan sebagai pesaing, bahkan musuh, yang merugikannya. Semacam performa paranoid.
 
Jika terpaku pada tutur kata sopan seseorang ketika ia menyampaikan kuliah, atau sewaktu dia sebagai politisi berbicara di depan kamera untuk penyiaran melalui media, yang dihasilkan adalah kesalahan dalam mengetahui. Kata-kata, wicara, bahasa linguistik, adalah sarana paling lazim dan tersedia buat menabiri keterbiasaan-keterbiasaan yang lebih mewakili siapakah seseorang itu. Keterbiasaan lebih menetap dan cenderung tidak tersentuh oleh reka pengubahan oleh si empunya. Sementara kata-kata, wicara, ungkapan linguistik, begitu gampang diganti, dibolak-balik, diolah agar sesuai dengan kepentingan sesaat.
 
Sebagai insan-insan yang bekerja di lapangan kesehatan mental, agaknya psikiater atau psikolog atau pekerja sosial perlu lebih memerhatikan “yang nirsadar” pada pasien dan klien. Juga pada diri sendiri. Karena mereka perlu mengerti untuk dapat membantu dengan baik dan tepat. Suatu hal yang hanya dapat dicapai dengan menghayati performa nirsadar, bukan semata memerhatikan performa linguistik. Tidak tahu, sudahkah hal ini diperhatikan. (Limas Sutanto)